nuffnang ads

Sabtu, 08 September 2012

RINDU TARIBYAH TEROBATI DALAM UKHUWAH




Kirim Print


(sri)
 “Tiada Tuhan melainkan Allah semata. Tiada sekutu bagi-Nya, baginya kerajaan, bagi-Nya segala puji, dan Dia berkuasa atas segala sesuatu”
Masih ingatkah para pembaca dengan tulisan, “Sepotong Kisah tentang Tarbiyah”? Sungguh rindu yang menggelayut itu terijabah oleh-Nya yang Maha Kuasa. Tak ada kata selain ucapan ‘syukur alhamdulillah’ nikmat iman dan ukhuwah masih tersemat di hati.
Sungguh aku tak pernah menyangka sebelumnya, aku salah satu peserta Sekolah Guru Indonesia Angkatan ke-3 (Dompet Dhuafa) akan menginjakkan kaki di tanah Dompu, Nusa Tenggara Barat. Ternyata, ukhuwah itu kembali terukir di tanah asing. Ukhuwah, apa sebenarnya yang dikandungnya? Mengapa ia begitu lekat mencari percikan ukhuwah lain yang sedang terserak?
Ukhuwah ‘persaudaraan’, rasanya batin tak puas jika tak mendendangkannya. Ya, kini kudapati ukhuwah dalam lena tarbiyah. Kini, jiwaku sedang asyik menikmati pahatan kasih dan melepas dahaga pada ranting tarbiyah.  Siapa yang menyangka bila ternyata sarana ini adalah as-syifa ’obat’. Begitu mudahnya air mata ini menetes hanya dengan mengingat ‘tarbiyah’ dan kini kurasakan ukhuwah itu menancap dalam kalbu hingga kembali air mata berlinang sebagai tanda rasa haru dan bahagia. Inikah indahnya Islam? Inikah indahnya seiman? Aku tak pernah tahu ‘mereka’ (teman tarbiyahku kini) sebelumnya, namun pertemuan dengan mereka bagaikan telah terjalin beberapa tahun lalu. Hangatnya suasana bercakap dengan mereka, nikmatnya saling mendoakan tatkala jabat terjalin untuk kembali bertemu, dan sejuknya saat dalam pelukan ukhuwah. Inilah nilai yang ditanamkan oleh Rasulullah SAW sejak awal.
Masih ingatkah Anda tatkala Umar bin Khattab bertemu dengan saudara seiman Abu Bakar? Mereka saling mendoakan, berjabat, dan saling berpeluk. Sungguh gambaran itu bagai menyatu dengan sukma. Dan semua kudapatkan dari ‘tarbiyah’.
Ukhuwah, apa sesungguhnya yang kau kandung? Mengapa hati ini serasa tak puas jika belum bersua denganmu? Mungkinkah engkau telah mengakar jauh dalam lubuk hatiku yang terdalam?
Aku ingin sedikit bercerita tentang rinduku yang terobati. Ramuan yang tepat bagiku memang hanya bisa didapatkan di bengkel jiwa yakni ‘tarbiyah’. Beberapa pekan lalu, aku duduk melingkar bersama saudara baruku. Kutumpahkan semua rasa yang ada saat menapaki tanah asing bernama Dompu. Penuh semangat dan terlihat tegar. Namun, jauh dari lubuk hatiku, aku ingin menangis di depan mereka. Tetapi, sungguh kekuatan ukhuwah itulah yang membuatku tak meneteskan air mata sebab dari wajah mereka terpancar semangat luar biasa. Semangat yang membuatku tegar. Semangat yang hingga kini masih tak lekang.
Sedikit bernostalgia dengan tarbiyahku dulu. Beberapa hari lalu, aku mendapat telepon dari seorang saudara yang kucintai karena Allah. Dia mengatakan, “aku menangis membaca tulisanmu yang dimuat beberapa tempo lalu.” Tanpa terasa, saat ia mengucapkan kalimat itu, air mata ini menetes. Bagaimana besarnya rindunya padaku, maka rinduku melebihi dirinya. Aku pun berkata, “Tiap kali tulisan itu kubaca, maka tiap itu juga air mata berlinang”. Inikah buah dari tarbiyah? Jika memang ini buah darinya, maka sungguh aku tak ingin membayangkan perpisahan dengan saudaraku kini. Sebab aku tahu bagaimana sakitnya kehilangan, bagaimana sakitnya menahan rindu. Rintihan kecil itu selalu ada menjadi pengantar tidur. Selalu hadir membayang.
Jika rindu tarbiyahku kini terobati, aku hanya ingin tetap terjaga. Terjaga hingga akhir penantian kembali menghampiri.
***
Larut dalam Ukhuwah
Islam memang agama yang mengantarkan damai kepada pemeluknya. Aku leleh dalam indahnya. Allohumma innaka ta’lamu anna hadzihil-quluub, qodijtama’at ‘alaa mahabbatik, ‘Ya, Allah sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul atas dasar kecintaan pada-Mu.’ Demikianlah rasa indah yang kurasakan, berkumpul atas dasar cinta kepada Dzat yang tiada sekutu bagi-Nya, Dzat yang tiada setara dengan-Nya.
Ukhuwah mengantarkanku mengenal keterasingan menjadi lekat, hingga tak dapat sepenuhnya kutuang dalam catatan kecil ini betapa aku larut di dalamnya.
Bait-bait doa pun terlantun indah tatkala mengingat mereka dalam lena tarbiyah. Aku beruntung, hidayah bertahta hingga membentuk kekaguman pada-Nya. Kagum akan rasa yang disusupkan pada tiap hamba-Nya. Yang hamba itu tak tahu dari mana datangnya gejolakukhuwah yang begitu kental. Lagi-lagi, aku terharu. Tiada henti ingin kudendangkan rasa syukur tak terhingga ini pada pengatur skenario dalam hidupku. Mengatur dengan sedemikian apiknya.
Jika sekiranya, ukhuwah ini bisa dibisikkan oleh angin, maka aku ingin sang angin, atas izin Sang Pencipta, menyampaikan rasa terima kasih pada seorang teman yang telah mengantarkanku pada gerbang tarbiyah yang penuh dengan bumbu ukhuwah.

Jumat, 07 September 2012

NASEHAT SEORANG IBU UNTUK PUTRI NYA


Kisah ini terjadi di kota Khamis Mushyat(salah satu kota bagian Abha di Negara Saudi Arabia)yang berbatasan dengan Negara Yemen.
Seperti umumnya kebudayaan Saudi Arabia yang menikahkan anak2 mereka berdas
arkan kehendak orang tuanya atau pinangan dari laki-laki menginginkannya.
Seperti yang terjadi kepada gadis bernama Najwa yang dinikahkan oleh orang t
uanya dengan anak paman bibinya bernama Musa Al Ghaerani

Dan inilah sepenggal nasehat ibunya untuk Najwa.nasehat yang tetap membekas dalam ingatanku selama ini dan ingin berbagi dengan sahabat fillah disini.Semoga ada manfaatnya…

1.Putriku…bukan maksud ayah bundamu menghancurkan masa depanmu dan membatasi langkahmu dengan menyuruhmu menikahi Musa sebagai suamimu…namun pahamilah..bahwa ayah bundamu ingin menuntaskan tanggung jawab selaku orang tuamu dengan membawamu ke gerbang pernikahanmu.
Tentunya dengan menimbang usiamu yang sudah layak menikah dan syariat Islam..

2.Putriku…sebenarnya inilah laluan cinta.
Memang indah menjadi istri yang dicintai suami dan ini merupakan impian semua wanita.
Namun putriku…indah bukan menjanjikan ketenangan,kebahagiaan apalagi keselamatan yang kekal/abadi.
Ingatlah putriku…andaikata dirimu gagal meraih cinta suamimu BUKAN bermakna kebahagiaanmu di dunia tertutup.
Kita hidup di dunia ini hanya sementara dan kebahagiaan yang kita tuju adalah kebahagian yang kekal di akhirat kelak.
Bunda mengerti jika semua orang menginginkan sebagai suami istri yang saling mencintai karena Allah swt.
Namun apabila hal itu tidak berlaku terhadapmu..mungkin Allah swt memintamu untuk mencari hikmah yang diselipkan untukmu.

3.Putriku…berusahalah untuk SABAR…
Bila kita BERSABAR dan memandang segala sesuatunya karena Allah swt sebagai Pencipta dari Segalanya,Pemberi ujian hidup berupa rasa sakit hati atau hal2 yang menyusahkan hidup kita..Tentulah..KEDAMAIAN HATI akan tercipta dengan sendirinya..
Ingatlah..BUKAN karena Allah swt tdk tahu penderitaan kita,hancurnya hati kita..tetapi mungkin itulah yang Allah swt inginkan dari kita saat itu.
Karena Allah Maha Tahu…HATI yang beginilah yang selalu lebih LUNAK dan MUDAH untuk dekat &akrab dengan_Nya.
Masih ingatkah dengan Firman_Nya:

a.“Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar,..”
(QS. Al-Baqarah: 153)
b. “Wahai orang-orang yang beriman bersabarlah dan kuatkanlah kesabaranmu,..…” (QS.Ali Imran: 200)

4.Putriku…
Bunda akui kalau pernikahanmu ini BUKAN atas pilihanmu sendiri.
Namun sadarilah..pada hakekatnya itulah pilihan yang Allah swt mau untukmu .
Siapapun orang tua pasti menginginkan kebahagiaan anaknya…
namun rupanya terlalu banyak perkara yang berlaku di luar jangkauan kita sehingga membuatmu seperti ini.
Namun putriku…Bundamu ingin mengingatkanmu bahwa PERKAWINAN atau SUAMI bukanlah MATLAMAT TERAKHIR hidupmu tetapi hanya sebagai alatmu untuk merebut keampunan dan keridhaan Illahi..

5.Putriku..seringkali yang kita inginkan atau cita-citakan tidak tercapai.
Terkadang sesuatu yang kita benci malah justru menimbulkan rasa cinta dihati.Hal ini merupakan suatu taqdir yang siapapun tak bisa menolaknya.
Tapi Bunda mohon..janganlah membuatmu marah dan menyesali..Teruslah ingat akan CINTA KASIH Allah swt.
Terkadang sikap kita sering membuat Allah swt tak suka…namun Allah swt tetap memberi pintu MAAF untuk hamba_Nya.
lalu mengapa dirimu tidak mencoba memberi maaf atas sikap dan prilaku suamimu??
malulah diri kita…seringkali kita marah dan sakit hati tatkala hak kita terabaikan…NAMUN hati kita tertidur tatkala HAK Allah swt terlupakan…

6.Putriku…Sebenarnya Allah swt sangat sayang kepadamu dengan diberikan ujian ini kepadamu.Ujian KESUSAHAN PERASAANMU.
Allah swt menginginkan dirimu berpaling dari cinta sementara yang dirimu impikan dan beralih kepada cinta HAKIKI yang indah dan agung.
Cinta yang semata untuk Allah swt.
Jadi putriku…pergunakanlah peluang ini dengan baik tanpa rasa marah dan penyesalan…

7.Putriku…walaupun dirimu tahu dan merasakan bahwa suami tidak sungguh-sungguh mencintaimu TETAPI dirimu masih memberikan pengabdian yang terbaik untuknya..dan senatiasa mendo’akannya..maka sesungguhnya engkau sedang memburu cinta Illahi..
Namun jika dirimu justru melampiaskannya dengan emosi maka deritamu hanyalah derita lahir dari nafsu yang terburai..

8.Putriku…suamimu walaupun di pegang kuat-kuat dan dipeluk erat-erat..suatu saat dia akan meninggalkanmu.
Hidupnya tidaklah kekal..dan suatu saat engkau akan kehilangannya.Karena itu..pandai-pandailah mempergunakan peluang meraih pahala SABAR,RIDHA dan Syukur.
Jika rasa sakitmu terasa makin menusuk bagaikan irisan pedang di hatimu…mengadulah kepada_Nya.
Allah swt lah tempat mengadu dan memohon.Katakanlah kepada_Nya..bukan karena engkau tidak RIDHA tetapi katakanlah kepada_Nya bahwa dirimu terlalu LEMAH.Mohonlah agar diberikan bimbingan dan kekuatan_Nya.
Dan andaikata Allah swt belum mau mengangkat deritamu..maka mohonlah agar deritamu itu menjadikanmu terus berada dalam perhatian dan kasih saying_Nya.

9.Putriku… teruskanlah mendoakan suamimu juga untuk dirimu sendiri. Engkau sedang melintasi satu jembatan yang pendek tapi sulit, untuk pergi ke satu mahligai yang kekal abadi dan bahagia yang hakiki.
Berbaktilah dengan kesungguhan hati padanya, yang telah Allah SWT takdirkan sebagai suamimu. Dan hasilnya jangan kau tuntut darinya anakku, tapi nantikanlah ia di Akhirat yang kekal abadi...

Rabu, 05 September 2012

SEBUAH PENANTIAN,KHUSUS AKHWAT YANG IKHWAN SILAKAN MENJEMPUT


Entah angin apa yang membuai hari ini, membuatku begitu berani mencoretkan sesuatu untuk dirimu yang tidak pernah aku kenali. Aku sebenarnya tidak pernah berniat untuk memperkenalkan diriku kepada siapapun. Apalagi mencurahkan sesuatu yang hanya aku khususkan buatmu sebelum tiba masanya. Kehadiran sseorang lelaki yang menuntut sesuatu yang kujaga rapi selama ini semata-mata buatmu, itulah hati dan cintaku, membuatku tersadar dari lenaku yang panjang.

Ibu telah mendidikku semenjak kecil agar menjaga maruah dan mahkota diriku karena Allah telah menetapkannya untukmu suatu hari nanti. Kata ibu, tanggungjawab ibu bapak terhadap anak perempuan ialah menjaga dan mendidiknya sehingga seorang lelaki mengambil-alih tanggungjawab itu dari mereka. Jadi, kau telah wujud dalam diriku sejak dulu. Sepanjang umurku ini, aku menutup pintu hatiku dari lelaki manapun karena aku tidak mau membelakangimu.

Aku menghalang diriku dari mengenali lelaki manapun karena aku tidak mau mengenal lelaki lain selainmu, apa lagi memahami mereka. Karena itulah aku sekuat ‘kodrat yang lemah ini’ membatasi pergaulanku dengan bukan mahramku. Aku lebih suka berada di rumah karena rumah itu tempat yang terbaik buat sorang perempuan. Aku sering merasa tidak selamat dari diperhatikan lelaki. Bukanlah aku bersangka buruk terhadap kaummu, tetapi lebih baik aku berwaspada karena contoh banyak di depan mata.

Aku palingkan wajahku dari lelaki yang asyik memperhatikan diriku atau coba merayuku. Aku sedaya mungkin melarikan pandanganku dari lelaki ajnabi (asing) karena Sayyidah Aisyah r.a pernah berpesan, “Sebaik-baik wanita ialah yang tidak memandang dan tidak dipandang oleh lelaki.” Aku tidak ingin dipandang cantik oleh lelaki. Biarlah aku hanya cantik di matamu. Apalah gunanya aku menjadi idaman banyak lelaki sedangkan aku hanya bisa menjadi milikmu seorang. Aku tidak merasa bangga menjadi rebutan lelaki bahkan aku merasa terhina diperlakukan sebegitu seolah-olah aku ini barang yang bisa dimiliki sesuka hati.

Aku juga tidak mau menjadi penyebab kejatuhan seorang lelaki yang dikecewakan lantaran terlalu mengharapkan sesuatu yang tidak dapat aku berikan. Bagaimana akan kujawab di hadapan ALLAH kelak andai ditanya? Adakah itu sumbanganku kepada manusia selama hidup di muka bumi? Kalau aku tidak ingin kau memandang perempuan lain, aku dululah yang perlu menundukkan pandanganku. Aku harus memperbaiki dan menghias pribadiku karena itulah yang dituntut oleh Allah. Kalau aku ingin lelaki yang baik menjadi suamiku, aku juga perlu menjadi perempuan yang baik. Bukankah Allah telah menjanjikan perempuan yang baik itu untuk lelaki yang baik?

Tidak kunafikan sebagai remaja, aku memiliki perasaan untuk menyayangi dan disayangi. Namun setiap kali perasaan itu datang, setiap kali itulah aku mengingatkan diriku bahwa aku perlu menjaga perasaan itu karena ia semata-mata untukmu. Allah telah memuliakan seorang lelaki yang bakal menjadi suamiku untuk menerima hati dan perasaanku yang suci. Bukan hati yang menjadi labuhan lelaki lain. Engkau berhak mendapat kasih yang tulen.

Diriku yang memang lemah ini telah diuji oleh Allah saat seorang lelaki ingin berkenalan denganku. Aku dengan tegas menolak, berbagai macam dalil aku kemukakan, tetapi dia tetap tidak berputus asa. Aku merasa seolah-olah kehidupanku yang tenang ini telah dirampas dariku. Aku bertanya-tanya adakah aku berada di tebing kebinasaan ? Aku beristigfar memohon ampunan-Nya. Aku juga berdoa agar Pemilik Segala Rasa Cinta melindungi diriku dari kejahatan.

Kehadirannya membuatku banyak memikirkan tentang dirimu. Kau kurasakan seolah-olah wujud bersamaku. Di mana saja aku berada, akal sadarku membuat perhitungan denganmu. Aku tahu lelaki yang menggodaku itu bukan dirimu. Malah aku yakin pada gerak hatiku yang mengatakan lelaki itu bukan teman hidupku kelak.

Aku bukanlah seorang gadis yang cerewet dalam memilih pasangan hidup. Siapalah diriku untuk memilih permata sedangkan aku hanyalah sebutir pasir yang wujud di mana-mana.

Tetapi aku juga punya keinginan seperti wanita solehah yang lain, dilamar lelaki yang bakal dinobatkan sebagai ahli syurga, memimpinku ke arah tujuan yang satu.
Tidak perlu kau memiliki wajah setampan Nabi Yusuf Alaihisalam, juga harta seluas perbendaharaan Nabi Sulaiman Alaihisalam, atau kekuasaan seluas kerajaan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, yang mampu mendebarkan hati juataan gadis untuk membuat aku terpikat.

Andainya kaulah jodohku yang tertulis di Lauh Mahfuz, Allah pasti akan menanamkan rasa kasih dalam hatiku juga hatimu. Itu janji Allah. Akan tetapi, selagi kita tidak diikat dengan ikatan yang sah, selagi itu jangan dimubazirkan perasaan itu karena kita masih tidak mempunyai hak untuk begitu. Juga jangan melampaui batas yang telah Allah tetapkan. Aku takut perbuatan-perbuatan seperti itu akan memberi kesan yang tidak baik dalam kehidupan kita kelak.
Permintaanku tidak banyak. Cukuplah engkau menyerahkan seluruh dirimu pada mencari ridha Illahi. Aku akan merasa amat bernilai andai dapat menjadi tiang penyangga ataupun sandaran perjuanganmu. Bahkan aku amat bersyukur pada Illahi kiranya akulah yang ditakdirkan meniup semangat juangmu, mengulurkan tanganku untukmu berpaut sewaktu rebah atau tersungkur di medan yang dijanjikan Allah dengan kemenangan atau syahid itu. Akan kukeringkan darah dari lukamu dengan tanganku sendiri. Itu impianku.

Aku pasti berendam airmata darah, andainya engkau menyerahkan seluruh cintamu kepadaku. Cukuplah kau mencintai Allah dengan sepenuh hatimu karena dengan mencintai Allah, kau akan mencintaiku karena-Nya. Cinta itu lebih abadi daripada cinta biasa. Moga cinta itu juga yang akan mempertemukan kita kembali di syurga….